Home

Beristighfar Karena Ucapan Hamdalah

Oleh mirza3m | 18 Jan 2013 | Comments (2)

Sari As-SaqatiPada abad ketiga hijriyah, seorang sufi al-’arif billah, Sariy as-Saqathy (w. 253 H/ 967 M) yang notabene adalah murid dari sufi besar, Ma’ruf al-Karkhy (w. 200 H/ 815 M), bercerita bahwa beliau mengucapkan istighfar (astaghfirullah al-adzim) selama 30 tahun. Gara-garanya beliau pernah mengucapkan hamdalah (alhamdulillahi rabbbil ‘alamin).

Orang yang mendengarkan cerita tersebut bertanya, “Lho, kok bisa begitu?” Syekh menjawab, “Jadi begini. Dulu ada musibah kebakaran di Baghdad. Lalu ada orang yang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat dari kebakaran. Waktu itu, secara spontan, aku berucap alhamdulillah.” Syekh melanjutkan, “Maka ucapan itulah yg kusesali selama 30 tahun ini. Aku menyesali sikapku yang hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain.”

Selama 30 tahun Syekh Sariy menyesali ucapan alhamdulillah-nya. Beliau menyesali karena sadar, sesaat setelah mengucapkan ucapan syukur, bahwa dengan ucapan syukur tersebut berarti beliau masih sangat tebal perhatiannya dengan dirinya sendiri. Begitu tebalnya, hingga menindih kepekaan perhatiannya kepada sesama. Sekejap beliau tersadar: alangkah dekilnya orang yang mensyukuri keselamatan sebuah toko pada saat keselamatan sesama dan harta benda mereka ludes terbakar.

Betapa anehnya jika ada orang yang sanggup menyatakan kegembiraan di saat musibah menimpa sebagian besar saudara-saudaranya. Kecuali bila hati kita memang sudah sedemikian membatu oleh kecintaan kita yg berlebihan kepada diri sendiri dan dunia.

Semoga kita semua terhindar dari penyakit hati sehingga hati kita dapat dengan mudah menerima cahaya Tuhan. AMIN. :)

Gambar: http://simusafirilahi.blogspot.com

2 Comments

  1. iis says:

    amiiiiiiiiiiiin ya Allah..

    - singkat, padat, ngena banget -

    hatur nuhun

  2. adri duludu says:

    Mantab. Sebuah pelajaran baru.Makasih ..

Leave a comment