Home

Forsanba Area


Satu Untuk FORSANBA

Saya berniat menuliskan beberapa kenangan ini tepat setelah kita, satu sama lain, berpamitan.

Sabtu sore, pukul 15.30, saya beserta adik dan sepupu, Zaki dan Jahi, bergegas menuju tempat yang sudah ditentukan sebelumnya, Masjid Al-Hidayah Pemalang. Sampai disana, sekitar pukul 16.15, tak seorangpun dari sahabat kami yang terlihat. Baru setelah 5 menit kemudian, Saeful datang. 15 menit kemudian, Udin juga tampak dengan motor matic-nya disusul dengan Ifta dan adiknya, Alief beberapa menit setelahnya. Baru setelah itu, Nurul menampakkan batang hidungnya setelah sebelumnya hadir sang ketua, Masrukhi. Lainnya belum juga terlihat.

*

Beberapa hari sebelumnya, kami, anggota FORSANBA (Forum Silaturrahmi Alumni Santri PP Bahrul Ulum) yang berdomisili di Jakarta dan Semarang, telah bersepakat untuk bertemu (baca: konsolidasi internal) di Masjid Al-Hidayah. Waktunya juga telah kami tentukan. Kami juga melibatkan semua pengurus FORSANBA, khususnya yang berdomisili di daerah Pemalang.

*

Kesabaran kami terbayarkan. Akhirnya, 25 menit menjelang adzan Maghrib berkumandang, 2 orang perwakilan dari wilayah Semarang, Tsuqoibak dan Rifai, tiba. Beberapa menit setelah kedatangan mereka, rapat konsolidasi dimulai. Sayangnya, sampai dengan adzan terdengar, belum ada hasil apapun yang kami sepakati karena waktunya terlalu singkat.

Dikarenakan waktu yang terlalu dekat antara Maghrib dan Isya, kami putuskan untuk menunda rapat sampai selesai shalat Isya. Beruntungnya, kami kedatangan 4 orang perwakilan lainnya dari Semarang. Mereka adalah Aniq, Lalan, Salisa, dan Alfi.

Rapat dimulai.

Sang moderator, Saeful mempersilakan Aniq untuk memberikan klarifikasi terkait sedikit problematika yang selama beberapa hari terakhir disoroti di Pondok Pesantren (ponpes) tercinta. Selama beberapa menit ia menyampaikan klarifikasinya, kami semua menduga bahwa ada misunderstanding dalam permasalahan ini. Akan tetapi, beberapa poin tetap kami soroti untuk perbaikan kedepannya. Beberapa sahabat alumni juga ikut menyumbangkan kritik pedas (yang membangun) dan saran dalam rapat konsolidasi tersebut. Rapat ini sendiri berlangsung selama lebih dari 1 jam sampai pukul 20.40 dengan beberapa kesepakatan.

Singkat cerita, kami menunggu Abah (Ulul) dan Umi (Vinsa) pulang ke rumah (karena kami berencana sowan). Kami diberi tahu bahwa beliau berdua sampai rumah diatas jam 21.00. Waktu jeda tersebut kami manfaatkan dengan makan bersama (sahabat alumni) di Warung Grombyang H. Warso. Tanpa disangka-sangka, ternyata beliau berdua malah menghampiri kami. Kami dan Abah-Umi bersepakat melanjutkan ‘perbincangan’ kami di Masjid Agung Pemalang setelah kami selesai makan.

Di Masjid, kami mendapatkan banyak sekali pelajaran kehidupan dari Abah (dan Umi). Kami semakin salut dengan kerbersahajaan, kebijaksanaan dan kesabaran beliau. Beliau menyampaikan beberapa hal terkait dengan permasalahan kami. Tidak hanya mengkritik, tapi beliau juga memberi solusi brilian. Beliau berpesan kepada kami agar terus berkarya dan tidak melupakan “unggah-ungguh” yang menjadi ciri khas dari santri. “Walaupun kamu lebih pintar dari gurumu sekalipun, tapi ‘garam’ (pengalaman) kamu masih kurang dibanding gurumu. Maka, hormatilah.” Perbincangan kami berakhir ketika jarum menunjukkan angka delapan selepas jam 10 malam.

Kami pulang. Sahabat alumni putra menginap di rumahku, sementara putri ke rumah Ifta.

Kami melanjutkan sowan ke Pak Kiai keesokan harinya. Kami disambut dengan senyum lebar dan keramahan yang selalu beliau tunjukkan ketika ada tamu. Setelah menanyakan kabar kami satu-persatu, pak Kiai memulai pembicaraannya dengan mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad saw. Kami semua ta’dzim mendengarkan. Tangan beliau bergetar ketika sedang berbicara. 15 menit sudah beliau jabarkan maksud dari kandungan hadits tersebut kepada kami. Pengantar tersebut sejatinya adalah untuk membuka pembicaraan kepada kami tentang beberapa hal yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan di ponpes. Beliau menjelaskan dengan pelan, lugas, dan bijaksana, tanpa terlihat emosi se-centimeter-pun di raut wajahnya. Itu adalah kekhasan beliau di mata kami. Beliau berpesan kepada kami untuk tetap menjunjung tinggi akhlak dimanapun kami berada. “Tidak boleh sombong walaupun kedudukan kalian lebih tinggi dari guru kalian,” pesan beliau.

Setelah ke Pak Kiai, kami sowan ke salah satu guru kami: Ust. Dedi. Ketika kami sowan ke beliau, kami diberi pesan untuk tidak melupakan jasa guru kami. Beliau juga menceritakan beberapa teman beliau yang sekarang sudah menjadi ‘orang’ karena ketakdziman mereka kepada guru mereka.

Setelah rangkaian ‘acara’ kami jalani, kami berpamitan. Tak lupa kami berfoto bersama.

Catatan.

Saya sengaja tidak menyebutkan dalam rangka apa kami berkumpul rapat kemarin. Harap maklum ya. :D

Saya secara pribadi sangat berterima kasih atas kehadiran sahabat-sahabat yang kemarin ikut berpartisipasi, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada yang tidak sempat hadir. Saya sungguh sangat terharu (bukan berarti nangis yoo) dengan menjadi-satunya emosi sahabat-sahabat. Saya terkesan dengan kedewasaan Masrukhi, ketegasan Udin, kejelian analisis Saeful, dan kerendah-hatian Ifta. Juga dengan kesabaran Aniq, Rifai, dan Lalan; keterbukaan Tsuqoibak dan Salisa; diam seribu bahasanya Alfi; kalemnya Jahi dan Alief; percaya dirinya Ghofar dan Nurul; dan gagahnya Zaki. Sekali lagi, saya apresiasi setinggi-tingginya kepada kalian atas pengorbanan waktu, biaya, dan tenaga kalian. Saya pribadi sangat yakin jika niat hadirnya kalian adalah satu: FORSANBA. Semoga FORSANBA tetap utuh dan tetap satu. :)

~muhammad mirza mushoffa~