Saya Dicekal di Imigrasi Malaysia

Malam itu, pukul 00.30, saya membeli karcis kereta api yang menuju ke BTS/TBS, sebuah terminal bus. BTS/TBS adalah sebuah terminal bus yang terintegrasi dengan stasiun. Beruntung, kereta yang saya naiki malam itu adalah kereta terakhir. Perjalanan menggunakan kereta untuk sampai tujuan saya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Setelah sampai, saya langsung bergegas menuju loket bus di BTS/TBS untuk mengerjar waktu yang tersisa. Sebab, menurut informasi yang saya dapat dari internet, bus terakhir di terminal itu adalah pukul 1 dinihari.

“Baru 15 menit lalu, bus pergi,” ucap petugas loket dengan logat melayunya (huruf ‘u’ pada kata bus dibaca ‘a’). Artinya, saya terlambat 15 menit. Saat itu, saya sudah pasrah bakal menginap di terminal itu sampai pagi untuk kembali melanjutkan perjalanan. Namun, saya beruntung (lagi), ketika petugas loket mengatakan ada bus tambahan yang berangkat pukul 1.30. Alhamdulillah.

Saya tertidur di bus meskipun AC sangat dingin. Singkat cerita, saya terlewat satu terminal karena ketiduran. Waktu itu, pukul 3.50, waktu Malaysia. Fyi, waktu disana lebih cepat satu jam dari Indonesia. Saya terbangun karena sang kondektur membangunkan para penumpang seraya memberi tahu bahwa tempat ini adalah pemberhentian terakhir.

Saya mencari minuman hangat untuk menyegarkan tubuh setelah lebih dari 2 jam kedinginan. Sembari makan kudapan yang saya bawa dari rumah, saya berkenalan dengan seseorang. Namanya Leo. Ternyata ia sedang menunggu bus menuju tempat yang saya tuju.

“That’s the bus. Follow me,” ajaknya. Bahasa Inggrisnya terdengar sedikit aneh. Ia lebih sering menggunakan bahasa Melayu. Sekitar 10 menit perjalanan, bus yang kami tumpangi berhenti. Leo bilang kalau kita harus melewati kantor imigrasi untuk menuju ke Singapura.

C’mon! We need to walk fastly,” kata dia, sambil setengah lari, kita harus cepat-cepat mengurusi paspor di kantor imigrasi, jika tidak ingin ditinggal bus. Kita hanya diberi waktu sekitar 10 menit.

“Fill this form!” Sambil menyerahkan formulir ‘turis asing’, ia menjelaskan kalau formulir ini harus diisi guna mengetahui tujuan para turis mengunjungi Singapura. Saya hanya mengisi kolom yang saya tahu, seperti tujuan dan berapa lama saya akan berwisata. “Hurry.. hurry!”

Saya dan Leo memilih loket yang berbeda. Ia menunjukkan paspor dan visa kerjanya. Saya lirik, ia dengan mudah melewati pemeriksaan petugas ke-imigrasi-an. Sementara, saya masih berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan petugas.

Saya melihat Leo menunjukkan jam tangannya, tanda waktu untuk pergi kembali ke bus sudah semakin mepet. Saya coba merayu petugas, “Mom, my friend’s wating for me. I need to be fast. Please.” Petugas perempuan bermata sipit itu malah menyuruhku duduk, “Sit down, please!” Ucapku sedikit gusar, “How long can I wait?”

Ia bilang hanya sebentar. Saya akhirnya menyerah dan mengikuti kata petugas. Saya bilang ke Leo, “Let me be here. U can go, right now. Btw, thanks ya.” Ia mengangguk dan berlari kecil keluar kantor menuju bus.

Hati saya berdebar ketika tahu bahwa petugas di dekat saya memencet bel. Saya tahu kalau bel tersebut adalah untuk memanggil petugas keamanan. Benar dugaan saya, seorang polisi berbadan tinggi dan tegap, berkulit gelap dengan kumis putih, menggandeng lengan saya menuju lift. Dipencetnya tombol lantai 7.

Sesampai dikantor, saya lirik jam dikantor sudah menunjukkan pukul 5.30. POLISI DIRAJA MALAYSIA, begitu papan yang tertulis. Saya hitung ada sekitar 9 orang yang masih aktif bekerja pada jam-jam orang terlelap. Hati saya berdebar tak keruan.

Saya terus-menerus berdzikir di dalam hati untuk memohon pertolongan Yang Maha Kuasa sambil menunggu dipanggil. Sudah 10 menit saya duduk, belum dipanggi juga. Malah ada satu orang yang masuk ke kantor ditemani polisi yang tadi membawa saya. Sepertinya sih orang Taiwan.

Saya masuk ke ruangan setelah dipanggil oleh salah seorang polisi. Ruangannya berukuran 3×3 meter dengan satu lemari, satu meja dan 3 kursi. Ada printer dan komputer juga. Petugas tersebut tersenyum dan menyalami saya. “Where do you come from?” Pertanyaan pertama keluar. Saya jawab dari Indonesia. Setelah tahu saya dari Jakarta, ia lantas menggunakan Bahasa Melayu. Sambil bertanya, datanglah petugas lain membawa kain sedikit basah.

Semua barang bawaan saya diusapkan ke kain tersebut. Sementara 10 jari saya ditempelkan ke scanner untuk mengetahui sidik jari saya. Begitu juga dengan KTP dan Paspor saya.

Saya bertanya mengapa saya dibawa kesini. Dia menjawab, “Cuma untuk pemeriksaan saja.” Berbagai pertanyaan ia ajukan. Dia merasa heran mengapa saya ingin mengunjungi Singapura hanya sampai sore hari dan mengapa sendiri.

“Saya kemari untuk bertemu 2 teman kantor saya yang berasal dari India dan Malaysia. Makanya saya harus kembali ke Malaysia sore ini juga. Mengapa sendiri? Karena 2 orang teman Indonesia saya membatalkan rencana travelling.” Saya lengkapi jawaban saya dengan menunjukkan tiket pesawat saya.

Setelah 20 menit, akhirnya saya diberi ‘notice’ yang harus saya tunjukkan ketika kembali dari Singapura, sore nanti. Alhamdulillah. Dan saya melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

Tagged with: ,