Lembur vs Keluarga

“… are we spending enough time with our family due to work? If we die tomorrow the company will easily replace our position, but how about our position in the family? Is it replaceable? So spend more time with your family”

Fenomena kerja sepanjang waktu a.k.a lembur a.k.a overtime, dengan dalih agar mendapatkan hasil lebih, terjadi dimana-mana, terlebih di kota-kota besar. Di beberapa perusahaan, ada beberapa karyawan yang memperoleh pendapatan lebih besar dari manajer. Lho kok bisa? Ini dikarenakan upah lembur mereka jauh melebihi gaji pokok mereka. Itulah mengapa banyak orang yang ingin merelakan waktu bersama keluarga digunakan untuk lembur. Namun, ada juga perusahaan yang tidak menganut aturan lembur. Aliran “lembur itu karena jam kerjanya tidak digunakan secara efektif” adalah salah satu alasannya.

Berdasarkan pasal 78 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUK), bahwa pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh (karyawan) melebihi ketentuan waktu kerja normal sesuai dengan pola waktu kerja yang ditentukan (dalam Pasal 77 ayat [2] UUK) wajib membayar upah kerja lembur sesuai peraturan perundang-undangan (yakni pasal 78 ayat [2] dan ayat [3] dan pasal 11 jo. pasal 10 dan pasal 8 Kepmenakertrans No. KEP-102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur). Syaratnya adalah:

  • ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; dan
  • waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.

Pertanyaannya adalah apakah rela menggunakan waktu keluarga demi lembur pekerjaan anda?

Anda bekerja setiap hari adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ini benar. Lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja daripada bercengkrama dengan keluarga. Ini juga benar. Akan tetapi, bagaimanapun juga, keluarga adalah masa depan anda. Pastinya anda tidak akan mau kasih sayang anak-istri anda ‘digadaikan’ dengan pekerjaan sepanjang waktu, kan? Untuk itu, efektif dan efisienkan waktu kerja anda. Tingkatkan kompetensi anda untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Saya pribadi bukannya tidak sepakat dengan lembur, tapi silakan lembur sesekali, bukan sering kali.

Oia, ada perusahaan yang ‘mengharamkan’ karyawannya bekerja disaat istirahat, lebih-lebih di hari libur, dan ‘menyeru’ untuk pulang ketika sudah waktunya pulang. Tujuannya adalah agar waktu yang digunakan untuk bekerja lebih efektif. Karena jika karyawannya lembur sampai tengah malam dan esoknya malah kelelahan, maka perusahaan juga yang menanggung akibatnya dengan ketidak-optimalan karyawan terhadap pekerjaannya.

Ada ungkapan dari teman menggunakan bahasa Jawa yang sedikit menggelitik. Lembur bae, sugih ora. Artinya, (ngapain) lembur terus, bikin kaya juga tidak.

Jika diurutkan dengan poin, maka seperti ini urutan yang banyak disarankan: 1. ‘keluarga’ – 2. ‘pekerjaan’. Kalau bisa, diselipkan ‘kesehatan’ ditengahnya. Jadi, urutan akhirnya menjadi 1. keluarga, 2. kesehatan, 3. pekerjaan.

Tagged with: , ,