Berkaca dari Kisah Sukus dan Tukus

Insomnia malam ini saya manfaatkan untuk mencari tambahan koleksi aplikasi iBooks. Ada ebook yang menarik perhatian saya. Judulnya adalah Satanic Finance. Buku karangan Dirut BJB Syariah saat ini (A. Riawan Amin) dan telah terbit hampir satu windu pada cetakan pertamanya a.k.a buku lama, membuat saya akhirnya mengunduh (secara gratis tentunya :D) dan segera membacanya.

Salah satu hal yang menarik dari buku ini (padahal baru separo baca) adalah gaya penulisannya. Dalam hal ini, penulis menempatkan dirinya dari sudut pandang sebagai setan. Sudah barang tentu, sebagai pembaca, anda akan dibuat ‘liar’ dan penuh emosi, yang mana adalah sifat dari setan itu sendiri.

Sebagian dari anda mungkin sudah pernah membaca kisah dua suku pada judul diatas. Bagi anda yang belum sempat baca, silakan baca kisah yang diadaptasi dari buku The Theft of Nations (2004) karangan Ahamad Kameel Mydin Meera dibawah ini sampai tuntas untuk menambah wawasan tentang bagaimana ‘sejarah’ uang kertas menyebabkan kehidupan suku yang tadinya tenteram dan saling bergotong royong kemudian menjadi individualistik.

Alkisah ada terdapat pulau Aya yang didiami oleh suku Sukus dengan Saka sebagai kepala sukunya, dan pulau Baya yang didiami oleh suku Tukus. Pulau Aya memiliki keindahan alam, ekonomi dan peradaban yang maju, sertan tambang emas yang melimpah. Mereka menggunakan koin emas sebagai alat tukar. Pulau Baya memiliki penduduk yang hidup sederhana dengan ketrampilan khusus sehingga kaya dengan hasil kerajinan tangannya. Kedua penduduk pulau ini hidup akur dan perekonomian berjalan lancar.

Datanglah Gago dan Sago kepada Saka yang mengaku dari pulau lain yang memiliki peradaban lebih tinggi. Mereka mengusulkan penggunaan uang kertas sebagai pengganti koin emas yang dinilai kurang praktis. Saka pun setuju sehingga 100.000 koin emas ditukar dengan 100.000 lembar uang kertas. Dan berdirilah Bank Aya.

Setelah sekian lama, ternyata hanya 10 persen dari uang kertas yang beredar dalam transaksi harian. 90 persen (sisanya) tetap berada di bank. Gago pun memiliki ide untuk mencetak uang kertas lagi karena sangat jarang nasabah bank Aya yang menukarkan uang kertasnya dengan koin emas.
Perhitungan dimulai. Dia mencetak 900.000 lembar uang kertas sehingga total yang telah tercetak adalah 1.000.000 lembar uang kertas. Berdasar pengalaman, hanya sekitar 10% orang yang menukarkan yang kertas ini, dan bukankah ia punya simpanan 100.000 koin emas milik penduduk Aya. So, pasti memadai cadangan emasnya. Fantastik! Creating money from NOTHING!

Penduduk Baya pun mulai tertarik dengan uang kertas ini. Dan tipu daya Sago dimulai. Dibuatlah cabang Bank Aya di pulau Baya. Sago mengusulkan bahwa penduduk Baya dapat memiliki uang kertas tanpa perlu menukarnya dengan koin emas. Penduduk Baya berjumlah 100 kepala keluarga. Mereka dipinjamkan masing-masing 1000 lembar uang kertas dengan perjanjian pada akhir tahun akan dikembalikan 1000 lembar uang kertas tersebut. Tidak hanya itu, ada juga tambahan 100 lembar uang kertas sebagai jasa peminjaman (10%).

Gago meminjamkan lembar uang kertas sisanya kepada penduduk Aya dengan jasa peminjaman sebesar 15%. Artinya bila ada yang meminjam 1000 lembar uang, di akhir tahun peminjam harus menyetor 1150 lembar uang. Kondisi ini menciptakan pergesaran kehidupan di kedua pulau, dari watak kekeluargaan menjadi individual. Prinsip time is money yang kini dipegang.

Hari berlalu, hutang pun mulai bertumpuk. Sago dan Gago sangat jenius. Kepada penunggak sebagian ada yang dipaksa membayar dengan menyita harta benda mereka, sebagian lagi (umumnya yang memiliki hubungan baik dengan Sago dan Gago) diberi perpanjangan masa angsuran, dan ada juga yang diberi tambahan hutang dengan dalih melancarkan kegiatan produksi.

Dengan sistem yang telah berjalan ini, Sago dan Gago pun memiliki kekayaan yang besar, sekaligus memiliki pengaruh politik sebagai efeknya. Alhasil, kemiskinan pun menjadi endemik. Budaya, keadilan pun mulai luntur.

Inilah yang terjadi selama ini. Dengan uang kertas tanpa jaminan, aturan cadangan 10 persen dan bunga menjadi 3 jurus sakti dalam menguasai sebuah negeri. Ketiga pilar yang sangat ampuh itu adalah Fiat Money, Fractional Reserve Requirement, dan Interest.

Bagaimana, menarik kan?

Tagged with: